MUSEUM DAN TANAH LIAT

MUSEUM DAN TANAH LIAT

Museum Dan Tanah Liat bermula dari sebuah studio seni pribadi milik Ugo Untoro yang didirikan pada tahun 1998, dan diberi nama studio “Tanah Liat” yang diambil dari nama anaknya. Dikarenakan banyak teman sesama seniman yang sering berkunjung,  dan pada akhirnya ikut berkarya di studio itu, Ugo pun membuka studio pribadinya itu sebagai tempat workshop bagi seniman-seniman yang ingin berkarya  di situ.

Seiring dengan perkembangan waktu, ide untuk mendirikan museum seni pun muncul. Maka pada tanggal 10 Agustus 2003, studio itu dijadikan museum seni dengan nama Museum Dan Tanah Liat atau lebih sering disingkat menjadi MDTL.

MDTL sendiri mempunyai konsep yang berbeda dengan museum seni lainnya yang cenderung mengoleksi karya seni dari sang pemilik museum. MDTL lebih difokuskan untuk mengoleksi karya seni dari seniman-seniman muda yang ada. Koleksi karya seni MDTL pun sangat beragam, mulai dari lukis, patung, sampai instalasi dan drawing, yang sebagian didapatkan dari pembelian, dan  sebagian lagi didapatkan dari sumbangan seniman.

Dikarenakan banyak usulan dari seniman untuk menggelar pameran karya seni di MDTL, maka kegiatan MDTL pun bertambah, tidak hanya sebagai museum yang mengoleksi karya seni saja, tapi juga berkembang menjadi gallery pameran dengan visi mencari seniman muda yang karya-karyanya terasa segar, tidak terdikte oleh selera pasar, serta belum banyak di ketahui oleh publik.

Pameran seni yang pertama diadakan pada tahun 2004 dan biasanya berlangsung dua bulan sekali.  Pada tahun 2006 MDTL sempat vakum dari kegiatan seni selama satu tahun dikarenakan terjadi gempa bumi. Selama masa vakum itu MDTL di renovasi secara pelan-pelan menyesuaikan dana yang ada, hingga pameran diadakan lagi pada tanggal 26 Mei 2007, tepat satu tahun setelah gempa bumi.

Dalam menggelar pameran seni, MDTL selalu berusaha menampilkan seniman yang sesuai dengan visi & misi nya dan di seleksi dan dikuratoriali langsung oleh Ugo Untoro sendiri. Karena MDTL berjalan dengan sistem “Non Profit”, setiap kali menggelar pemeran seni, biaya pameran di tanggung bersama antara MDTL dan seniman yang berpameran. Dalam operasional sehari-hari MDTL di kepalai oleh Trisni Rahayu.

Untuk kelangsungan MDTL, Trisni Rahayu mencoba menjalankan idenya dengan memamerkan karya seni dari seniman muda yang mempunyai potensi jual di pasar seni rupa. Pada tahun 2007 MDTL sukses menggelar pameran tunggal seniman muda Bob “Sick” Yuditha yang diadakan di Jogja Nasional Museum, yang selanjutnya digunakan untuk membantu biaya operasional agar tetap bisa menggelar pameran dari seniman muda yang karyanya masih belum di kenal di pasar seni namun memiliki potensi sebagai karya yang bagus sesuai dengan visi & misi dari MDTL.

Sampai sekarang MDTL terus bekerja sama dengan gallery dan kantong seni lainnya, tidak hanya di Yogyakarta namun juga di Jakarta dan kota-kota lainnya di seluruh Indonesia, baik untuk menggelar pameran maupun kegiatan seni lainnya. Adapun Misi MDTL sendiri tidak selalu terfokus pada pameran seni, MDTL juga sering di jadikan tempat workshop untuk praktek kerja lapangan dari Institusi seni baik di Yogyakarta maupun kota lainnya. Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah MDTL selalu menjalin komunikasi yang intens guna mengetahui perkembangan dalam perjalanan seni di Indonesia khususnya dan internasional umumnya. Anjang sana selalu dilakukan dengan seniman-seniman dari berbagai kota di luar Yogyakarta, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Bali, serta memamerkan seniman muda dari luar negeri sebagai perbandingan yang sehat dan untuk membangun jaringan di dalam dunia seni.

MDTL juga sering terlibat dalam agenda-agenda kegiatan seni di Yogyakarta seperti Biennale, Festival Kesenian Yogyakarta, serta kegiatan seni di kota-kota lainnya, baik sebagai peserta maupun sebagai pelaksana. Dalam hal inipun MDTL melakukannya berdasarkan dari visi & misi MDTL.

—–>  sumber: http://museumdantanahliat.com/ 

Close Menu