LITERASI ATAS YANG TERSERAK DI JALAN

LITERASI ATAS YANG TERSERAK DI JALAN

LITERASI ATAS YANG TERSERAK DI JALAN

Buku                      : Mural, Perkembangan dan Fungsinya di Yogyakarta

Penulis                 : Iwan Suastika

Penerbit              : House of Fine

 

Bahwa praktik budaya populer itu penting dicatat dan direfleksikan, di Indonesia termasuk terlambat. Kebudayaan jenis ini dianggap main-main, dangkal, dan tidak menggambarkan kebudayaan Nasional. Lalu praktik mencatat dan menganalisisnya dianggap tidak penting dan tidak diperlukan dalam ranah akademis. Padahal kebudayaan populer justru merasuk dalam sanubari rakyat. Maka tidak heran, setidaknya dalam satu dekade ini pencatatatan dan penelitian praktik-praktik budaya remeh temeh mulai mendapat tempat dan digemari peneliti muda. Salah satunya termasuk seni rupa jalanan atau street art.

Seni jalanan menjadi salah satu bidang yang digemari anak muda. Praktik seni ini tidak lagi bergantung pada ruang galeri sebagaimana lukisan atau seni rupa yang lain. Peminatnya juga bukan hanya para mahasiswa seni, tetapi juga anak-anak muda yang lain yang menggunakan jalanan sebagai ruang ekspresinya. Salah satunya adalah mural.

Mural lebih banyak bersinggungan dengan dunia seni arus utama, karena praktik ini kadang memerlukan landasan nalar berpikir seniman ‘arus utama’, yang memerlukan gagasan, konsep seni, dan karakter atau gaya visual tertentu. Banyak seniman yang menggunakan metode seni ini terutama sebagai perluasan media kreatifnya.

Salah satu aspek penting dalam kegiatan pencatatan adalah praktik literasi. Aktivisme kebudayaan populer anak muda memerlukan aktivitas pencatatan sekaligus kegiatan reflektif untuk membangun pengetahuan. Iwan Suastika melakukan penelitian untuk karya tugas akhirnya mengenai mural yang dikerjakan di Yogyakarta. Penelitiannya yang kemudian disajikan dalam bentuk buku, menjadi sumbangan penting bagi praktik seni jalanan di Yogyakarta.

Walaupun sudah banyak penelitian seperti ini dilakukan, namun Suastika memberikan sajian baru dalam hal presentasi. Sebuah praktik seni dengan gaya khas seperti mural seni jalanan, memerlukan juga strategi penyajian yang menggambarkan semangat seni ini. Dengan model penyajian kreatif, penelitian yang dilakukan Suastika dapat menggambarkan semangat seni jalanan itu, tidak saja pada muatan data yang dikumpulkan tetapi juga pada gambar-gambar ilustrasi dan  tata cara penyajian buku ini (layout, disain, dan gaya tulisan).

Iwan membuat semua gambar ilustrasi dalam buku ini secara manual dan mengolah pewarnaannya dengan aplikasi computer. Gambar-gambar dalam buku menjadi salah satu ciri kekuatannya selain muatan penelitian yang dilakukan Iwan. Buku setebal 168 halaman ini menyisipkan pula pembatas buku yang sekaligus dapat dipakai untuk membuat stensil.

Praktik mengumpulkan data, menganalisisnya, membuat ilustrasi, dan menyusunnya dalam bentuk buku memerlukan energi yang luar biasa. Buku setebal 170 halaman yang disusun untuk menyelesaikan studi S-1 di Jurusan Disain Komunikasi Visual ini menuntut tiga hal sekaligus bagi Iwan, yaitu dirinya sebagai peneliti mural, dirinya sebagai pembuat ilustrasi buku, dan sekaligus penyusun dan penerbit buku. Tentu saja buku ini memiliki kekurangan, terutama pada sumbernya yang rata-rata diambil secara online. Namun sisi kuatnya adalah usaha untuk mengumpulkan data di lapangan dan wawancara terhadap pelaku-pelaku mural, terutama yang ada di Yogyakarta. Usaha Suastika untuk melakukan kegiatan ini perlu mendapat apreasi  dan dukungan yang baik. Selamat menikmati buku menarik ini.

 

Rain Rosidi

Iwan Suastika

Close Menu