KONFLIK, DAN CARA MASYARAKAT MEMAHAMI KONFLIK MELALUI CERITA
MURAL DI DINDING KAMPUS

KONFLIK, DAN CARA MASYARAKAT MEMAHAMI KONFLIK MELALUI CERITA

Banyak dari kita terjebak konflik bukan karena peduli atau pintar, tapi karena kesalahan memahami situasi. Terlihat pada saat nonton film, masyarakat secara umum selalu yang ditunggu konflik/klimaksnya. Tidak peduli inti ceritanya apa. Pokoknya seru, gelut, bacok, meledak, apocalyptic. Lalu mindset ini terbawa ke pandangan hidup, memahami narasi konflik hanya dari konflik itu sendiri.

Untung saja di film The Dictator ada tulisan “genre : comedy”, sehingga semua konflik yang terjadi di film tersebut bisa dimaknai sebagai comedy. Atau di film-film Nazi, semua hal lucu akan dianggap satire (nyindir) karena jelas ini film perang.

Sedang di dunia nyata kan kita tidak tau konflik ini ikut genre apa dan konflik itu ikut genre apa. Sehingga kadang adegan humor dianggap serius, sementara yang serius malah ditertawakan.

Dalam dunia tulis menulis, khususnya cerpen atau bidang story telling, kita mengenal empat babak pergantian alur. Pertama pengenalan tokoh, lalu pengembangan cerita, konflik (kadang ada twist nya) dan yang terahir adalah konklusi, yaitu kesimpulan dari cerita. Apakah setiap cerita harus ada protaganis-antagonis? Apakah harus ada orang baik dan orang jahat? Apakah semua yang tidak sependapat dengan tokoh utama adalah jahat adanya?

Sedikit orang yang suka film drama. Karena ceritanya datar. Lalu jika diperhatikan lagi, 90% film yang menempati rating tertinggi mengandalkan konflik sebagai muatan utamanya. Termasuk sinetron. Pasti tokoh utama selalu dijahati sampai jatuh ke jurang penderitaan yang kadang tidak masuk akal. Bahkan banyak cerita yang hari ini justru konflik dijadikan instrumen pembuka cerita.

Konflik sebagai pijakan utama sebuah cerita adalah gaya Barat, yang di kelas 4 SD pun sudah dipelajari karena kurikulum kita mengacu ke Barat. Sementara jika kita lihat bagaimana orang Timur bercerita (cek film produksi Ghibly Studio), justru lebih menekankan perkembangan cerita. Sebagaimana terjadi di lakon Dewa Ruci, bukan Resi Durna (yang terkenal jahat) yang menjadi titik puncaknya, melainkan Dewa bertubuh kecil yang entah darimana datangnya mendadak menguasai cerita. Pada puncak cerita tersebut, justru sisi jahat Bima (sang tokoh utama) yang terasa.

Taukah mengapa kehidupan sulit dipahami?

– karena gak ada subtitle nya

M. Alwi

Icon Image

M.Alwi

Mahasiswa Jurusan

Seni Murni

angkatan 2015

Close Menu