HUJAN JANGAN MARAH BIAR KAMI SAJA SALING MARAH, KOLABORASI EKO NUGROHO DAN EFEK RUMAH KACA

HUJAN JANGAN MARAH BIAR KAMI SAJA SALING MARAH, KOLABORASI EKO NUGROHO DAN EFEK RUMAH KACA

Eko Nugroho (Eko, kelahiran Yogyakarta 1977), seniman kontemporer dengan berbagai media termasuk lukis, mural, komik, bordir, batik, wayang, dan sebagainya, mengaku sempat teraduk-aduk emosinya waktu Efek Rumah Kaca memainkan lagu “Putih”. Lagu yang bertema mengenai kehilangan orang terdekat itu mengingatkannya pada kepergian ayahandanya. Eko sempat tidak kuat mendengar lagu itu dan menyelinap ke belakang pentas. Baginya, itulah salah satu efek musik, sentuhan seni terhadap kemanusiaan.

Pentas yang terkesan bersahaja dan intim itu digelar di Studio Eko Nugroho di pinggiran Yogyakarta bagian barat daya. Halaman yang tidak luas itu, dipenuhi oleh kawan-kawan, kerabat  dekat Eko, dan penggemar ERK, yang dengan khusyuk dan takzim menyimak tiap lagu yang dimainkan. Di sela-sela jeda lagu keintiman acara ditambah dengan dialog-dialog kecil antara Eko, ERK, dan pengujung. Sungguh sebuah peristiwa yang hangat dan menyentuh. Seolah-olah tiap lagu ERK diberi nafas baru menjadi lebih dekat, personal,  dan penuh emosi. Di sela-sela pepohonan, dengan sorotan lampu yang bersahaja, energi ERK tetap terjaga melalui soundsystem yang apik. Penampilan mereka nampak makin dewasa dengan sentuhan musik tiup bersahut-sahutan dengan gitar dan lantunan suara latar tiga perempuan.

Efek Rumah Kaca (ERK) mungkin kalau klub sepakbola bisa dibilang Barcelona, dengan jargon “Mes Que Un Club” (Tidak Sekadar Klub).  Selain lirik-liriknya yang memotret keadaan sosial masyarakat Indonesia, mereka juga ikut mendorong gerakan-gerakan sosial. Mereka lebih dari sekadar band. Kiprah mereka kini termasuk mengkampanyekan literasi dengan gerakan membaca. Membuat perpustakaan dan toko buku, menyumbangkan buku, membikin arena pentas kecil untuk musisi-musisi muda, dan bentuk-bentuk aktivisme sosial lain, seperti mendukung gerakan anti korupsi dan sebagainya. Begitu juga Eko Nugroho. Seniman ini juga bukan sekadar perupa. Tema-tema karyanya banyak menyentil persoalan sosial, seperti isu toleransi dan keragaman. Bukan hanya berkarya seni, tapi Eko juga menginisiasi toko benda kreatif, sekolah seni untuk anak-anak, dan mendukung gerakan anti korupsi yang mempertemukannya dengan ERK. Mereka sama-sama melakukan aksi kreatif mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan musik dan mural.

Acara yang digelar 30 Desember 2018 yang lalu itu bagi Cholil (vokalis dan gitaris ERK) adalah sebuah awal untuk kolaborasi-kolaborasi yang lain. Eko dan ERK yang saling mengagumi karya masing-masing merasa kerja kreatif bersama itu dapat berlanjut pada projek-projek seni berikutnya. Kesamaan-kesamaan dalam melihat isu toleransi, kemanusiaan yang sehari-hari, menjadi pintu mereka untuk mempertemukan karya-karya. Bagi Cholil sang vokalis politik itu sehari-hari. Senarai dengan Eko yang juga menyelipkan celetukan-celetukan kritis dalam teks yang tertera di antara gambar-gambar karya seninya. Kolaborasi yang diberi judul “Hujan Jangan Marah Biar Kami Saja Saling Marah” ini melahirkan produk-produk unik seperti T Shirt, emblem, dan sebagainya dengan citarasa Eko Nugroho dan Efek Rumah Kaca. Produk ini dapat diakses khalayak di DGTMB Shop, kios kreatif milik Eko Nugroho di Jogjakarta, dan di Kios Ojo Keos milik ERK di Jakarta.

(RR)

 

Icon Image

PROFIL

Eko Nugroho (lahir 1977 - Indonesia) adalah alumni FSR ISI Yogyakarta jurusan Seni Murni. Eko mengambil mayor seni lukis dan lulus pada tahun 2006. Alih-alih mendalami seni ‘tinggi’modern, Eko justru tertarik dengan bentuk-bentuk seni urban dan seni remeh temeh lainnya, seperti komik, bordir, mural, dan batik. Justru dengan selera seperti itu, karya Eko mengambil perhatian di kancah seni internasional. Kiprah seninya merambah ke berbagai negara dengan berbagai media seni termasuk Wayang Bocor yang sempat dipentaskan di New York dan Honolulu. Karya seninya masuk dalam berbagai pameran bergengsi internasional dan menjadi salah satu seniman terkemuka dari Indonesia.

Efek Rumah Kaca adalah band dari Jakarta yang terdiri dari Cholil Mahmud (vokal utama, gitar), Poppie Airil (vokal latar, bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar). Musiknya banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat di sekitar dengan tema-tema yang kritis dan unik, seperti mengenai pembunuhan Munir.Tiga album studio mereka yaitu Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008), dan Sinestesia (2015).

This Post Has One Comment

  1. woow,,,keren. lanjutkan

Comments are closed.

Close Menu