AYU ARISTA MURTI

AYU ARISTA MURTI

AYU ARISTA MURTI DAN TACTIC: KOLABORASI MENGOLAH SAMPAH MENJADI SENI

Ayu Arista Murti

"Awal terjadinya kolaborasi dengan Mutia  Bunga dan Ryani sebenarnya adalah sesuatu yang alamiah dan mengalir begitu saja. Hal ini dimungkinkan karena hubungan pertemanan, sehingga timbullah chemistry".

Ayu Arista Murti

Perupa

Karya-karya Ayu Arista Murti mulai dikenal publik secara luas, setelah menjadi salah satu finalis di kompetisi seni rupa tingkat regional ASEAN. Karya lukisannya terbilang khas, dengan goresan ekspresif dan warna-warna bearoma feminim. Figur-figur dalam lukisannya membentuk karakter unik dengan gaya melukis yang spontan dan penuh emosi. Sekilas mirip karakter kartunal, namun terkesan dalam dan penuh misteri. Pada babak lebih kini, karya-karya Ayu cenderung mengabaikan figur, dan lebih mengedepankan percobaan-percobaan penggunaan material dan bentuk-bentuk unik, walau dengan gaya spontan yang bernergi sama kuatnya.

Perempuan kelahiran Surabaya tahun 1979 ini sudah beberapa lali menyelenggarakan pameran tunggal baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bersama dengan kelompok Bumbon, Ayu membuat beberapa kali pameran bersama. Kelompok Bumbon terdiri dari para seniman perempuan yang sekaligus beperan sebagai ibu di samping karirnya sebagai seniman profesional. Pameran berjudul ReRacik dilansungkan di Bale Banjar Sangkring Nitiprayan Yogyakarta dari tanggal 5 hingga 21 September 2018. Pameran ini merupakan pameran Bumbon yang kelima. Ide dasar dari pameran Bumbon kali ini adalah menggalang kolaborasi dalam berkarya dengan pihak lain. Kalau beberapa seniman Bumbon yang lain menggandeng kolaborator dari berbagai bidang seperti psikolog, penyair, musisi, ahli botani, dan perfomer, maka Ayu mengajak kelompok TacTic sebagai kawan kolaborasi.

Kelompok TacTic adalah Mutia Bunga dan Ryani SIlaban. Mereka banyak berkesperimen dengan bahan-bahan limbah plastik. Dalam karya berjudul “Beats in Me”, Ayu dan kelompok TacTic menjelajahi penampungan limbah plastik dan memulung sampah-sampah plasitik itu untuk diolah menjadi karya. Karya mereka berupa bidang dua dimensional dengan cara dirakit di dinding menyerupai lukisan berbahan plastik. Sampah plasitik yang semula tidak terpakai dirakit dengan cara menarik dan disajikan secara mewah di ruangan pamer.

Proses memulung dan mengolah sampah ini membutuhkan perngorbanan yang tidak kecil. Ryani sempat mengalami gejala typus. Kondisi ini sempat pula menular ke tubuh Ayu. Namun bagi mereka, pengalaman mengolah lImbah sampah plastik ini adalah pengalaman yang menarik dan menantang keinginan mereka untuk menjelajahi bahan-bahan alternatif berkarya seni.

(foto dokumentasi: Ayu Arista Murti dan Tactic)

Biodata Ayu Arista Murti

Lahir di Surabaya, 14 December 1979. Masuk ke jurusan seni lukis FSR ISI Yogyakarta pada tahun 1996 dan lulus tahun 2004. Beberapa kali pameran tunggal, baik di Yogyakarta, Jakarta, Kuala Lumpur, Tokyo, dan Darwin. Penghargaan yang diraihnya adalah The Best Encounter of Two Millennial Country Peru – Indonesia, Embassy of Peru, Jakarta, Indonesia (1996), The Best Water Color and Sketch from Indonesian Institute of Art, Yogyakarta, Indonesia (1999), The Best Drawing Sketch from Indonesian Institute of Art, Yogyakarta, Indonesia (2000), Total Indonesia Award from YSRI and Total Company (2001), Best Artwork, Dies Natalis Indonesian Institute of Art, Yogyakarta, Indonesia (2002), Top 5 of Indonesian Art Awards by Phillip Morris Company and YSRI, Indonesia (2003), Finalist South East Asean Art Awards by Phillip Morris Company (2003). Aktif berpameran di Indonesia maupun internasional, antara lain: Jakarta Biennale, Jakarta, Indonesia (2006), Indonesian Contemporary, 1918 ArtSpace, Collaboration with Edwin’s Gallery, Shanghai, China (2007), Manifesto, Galeri National Indonesia, Jakarta, Indonesia (2008), Jogja Jamming Biennale X Yogyakarta, Sangkring Art Space,Yogyakarta, Indonesia (2009), Survey #1.10, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia (2010), Jakarta Biennale #14, Jakarta, Indonesia (2011), The Winner’s Creation, Indonesian Arts Award, Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia (2012), ArtJog 14, Legacies of Power, Cultural Park/Taman Budaya, Yogyakarta, Indonesia (2014), Yogya Annual Art #3, Positioning, Sangkring, Yogyakarta (2018), dan sebagainya.

This Post Has 2 Comments

  1. menarik mbak. semangaaaat

    1. makasih

Comments are closed.

Close Menu